- Hepatitis berarti peradangan hati
-
Ada tujuh jenis virus hepatitis yang menimbulkan infeksi serta peradangan hati yaitu A, B, C, D, E, G dan TT. Virus-virus ini menyebar dengan cara yang berbeda, namun dampaknya terhadap hati sama.
-
Hepatitis C adalah infeksi virus dan merupakan kondisi medis yang serius dimana virus menyebar melalui darah yang terinfeksi. Sebelum tahun 1989 banyak orang telah terinfeksi virus hepatitis C melalui transfusi darah dan sebelum skrining terhadap virus ini dikembangkan.
-
Untuk bisa terinfeksi, anda harus terpapar dengan darah yang telah tercemar oleh virus hepatitis C dalam jumlah yang cukup banyak.
-
Banyak orang menderita hepatitis C karena penggunaan obat-obatan terlarang yang disuntikkan secara bergantian dan penggunaan jarum yang kotor pada saat membuat tato/tindik.
-
Lebih dari 170 juta orang di dunia terinfeksi hepatitis C, dan setiap tahun 3 - 4 juta orang terinfeksi baru.
-
Jika 100 orang terinfeksi hepatitis C, kira-kira ada 25 orang yang mampu membersihkan virus tanpa perlu pengobatan dalam waktu enam bulan setelah terinfeksi. Pada umumnya (kira-kira 75 orang) infeksi virus akan berkembang (disebut ‘kronik’) dan memerlukan pengobatan untuk menyembuhkannya. Beberapa orang mungkin tidak mengetahui kalau mereka terinfeksi dan mengalami kerusakan hati sebelum infeksi terdiagnosis. Jika tidak diobati, hepatitis C dapat berkembang menjadi sirosis (pengerasan hati) atau kanker hati dan mungkin memerlukan transplantasi hati.
-
Terapi hepatitis C telah berkembang dalam 15 tahun terakhir. Saat pertama kali teridentifikasi dan dokter mulai melakukan pengobatan, mereka hanya mampu mengendalikan/menghilangkan virus pada 10%-20% penderita. Saat ini, terapi baru memperlihatkan keberhasilan pada 50% - 80% penderita.
Memahami Seriusnya Masalah Hepatitis C di Indonesia
Hepatitis C merupakan salah satu jenis infeksi viral yaitu infeksi virus pada hati. Infeksi ini dapat mengakibatkan peradangan dan kerusakan pada hati. Pada sebagian kasus menjadi sirosis hati, kanker hati dan/atau kematian akibat gagal hati. Perbedaan virus hepatitis tsb. terletak pada perbedaan kronisitas infeksi dan kerusakan jangka panjang yang ditimbulkannya.
Hepatitis C merupakan masalah kesehatan masyarakat karena paling sering menyebabkan gejala sisa berupa hepatitis kronik, sirosis, dan kanker hati primer. Dibandingkan dengan hepatitis B, Virus hepatitis C lebih ganas dan menyebabkan penyakit hati menahun. Replikasi (berbiaknya) virus ini amatlah produktif dan dapat mencapai 10 triliun kopi sehari.
Hepatitis C virus adalah virus yang amat variatif secara genetik. Selain itu virus Hepatitis C juga memiliki angka mutasi (perubahan genetik) yang tinggi - sehingga virus mutan kerap kali dapat menghindari antibodi tubuh. Hal ini ditambah dengan tingginya produksi HCV, sehingga muncul generasi HCV yang beraneka ragam yang memungkinkan HCV meloloskan diri dari sergapan sistem kekebalan. Akibatnya vaksinasi belum merupakan cara yang manjur untuk mengatasi infeksi ini.
Masalah Kesehatan Dunia
Hepatitis C Virus (HCV) merupakan masalah kesehatan yang amat serius untuk masyarakat sedunia. Infeksi HCV telah menjadi pandemi atau wabah global; manusia yang terinfeksi HCV jauh lebih banyak dibandingkan yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Menurut Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) sekitar 170 juta umat manusia terinfeksi HCV. Angka ini meliputi sekitar 3% dari seluruh populasi manusia di bumi. Tiga sampai empat juta manusia terinfeksi baru setiap tahun.
Penularan
HCV adalah virus yang ditularkan lewat darah (blood-borne). Jalan utama infeksi meliputi:
- Transfusi darah atau produk darah dengan sumber darah yang belum di-skrining.
- Pemakaian berulang jarum, kanula atau alat medis lainnya yang tidak steril.
- Saling tukar suntikan oleh pengguna narkoba suntik (Injecting Drug User= IDU).
- Tindik (telinga, hidung, bagian tubuh lain), tato dengan peralatan yang tidak steril.
Penularan seksual dan perinatal bisa terjadi namun lebih jarang. Resiko tular ibu-ke-anak relatif rendah (5%). HCV tidak ditularkan melalui: bersin, pelukan, batuk, makanan, air, penggunaan peralatan makan atau kontak biasa.
Kelompok risiko tinggi (di negara berkembang maupun maju) adalah:
- Pemakai narkoba suntik
- Penerima darah/produk darah yang belum diskrining HCV pada Bank Darah (Catatan: Di Amerika, darah pada bank darah wajib diperiksa terhadap HIV dan HCV)
- Penerima organ yang belum diskrining HCV
- Pasien hemofilia
- Pasien cuci darah/dialisa
- Orang dengan mitra seksual yang terinfeksi HCV (tanpa kondom), terutama laki-laki homoseksual
- Tenaga medis yang tertusuk instrumen yang terkontaminasi
- Pasien yang menjalani prosedur medis atau gigi dengan alat yang tidak steril
Di negara maju diperkirakan 90% pasien yang terinfeksi adalah pengguna atau mantan pengguna narkoba suntik dan mereka yang pernah menerima transfusi darah/produk darah yang tidak diskrining.
Di negara berkembang dimana prosedur skrining HCV untuk darah/produk darah transfusi belum rutin, transfusi merupakan jalur tular utama. Praktek ritual (sunat, tindik, tato, dll), terapi alternatif (sedot darah) dan aktivitas lain yang menembus kulit merupakan jalur tular alternatif.
Perang Melawan Hepatitis C
Sebagai tindakan awal, seseorang yang termasuk kelompok resiko tinggi terinfeksi Hepatitis C, sebaiknya segera mengunjungi dokter (umum, spesialis penyakit dalam ataupun spesialis hati). Dokter akan menyarankan melakukan pemeriksaan darah untuk memastikan ada tidaknya infeksi virus hepatitis C dalam darah. Ada beberapa teknik diagnostik yang dikenal, diantaranya ELISA, RIBA dan PCR. Tes yang paling sensitif dan spesifik adalah pemeriksaan dengan teknik PCR menggunakan Cobas Amplicor Roche Diagnostic.
Mengingat penularan melalui darah dan produk darah merupakan jalur infeksi utama maka untuk mengatasinya perlu dilakukan upaya sistematis :
- Kewajiban skrining darah/produk darah dan organ transplantasi
- Inaktivasi virus dalam produk turunan plasma
- Praktek kontrol infeksi pada institusi kesehatan termasuk sterilisasi alat medis/gigi (Kewaspadaan Universal atau Universal Precaution).
Upaya ini terbukti telah menurunkan angka infeksi di negara maju. Namun demikian kasus infeksi baru tetap banyak. Upaya tambahan di dunia meliputi edukasi masyarakat tentang HCV, khususnya:
- Menginformasikan pengguna narkoba suntik tentang bahaya saling tukar alat suntik
- Mempromosikan penggunaan pelindung saat seks, terutama bila mitra seksnya HCV (+).
- Mempromosikan sterilisasi alat tato dan tindik
- Mengedukasi masyarakat di negara berisiko tinggi (termasuk Indonesia) akan gejala dan tanda, pemeriksaan HCV terlebih pada kelompok risiko tinggi.
Pengobatan
Dari sisi pengobatan, dunia farmasi terus menerus berupaya memberikan solusi terbaik mengatasi infeksi virus Hepatitis C. Perkembangan terbaru dalam penatalaksanaan Hepatitis C adalah dengan diperkenalkannya solusi terpadu Hepatitis C dari Roche yang meliputi tes diagnosa menggunakan Cobas Amplicor HCV Test, v 2.0 Roche yang berbasis teknologi PCR (Polymerase Chain Infection) guna identifikasi virus hepatitis dan dilanjutkan dengan pengobatan mempergunakan peg-Interferon alfa-2a(40KD) Roche untuk eliminasi virus Hepatitis C. Peg-interferon alfa-2a (40KD) Roche merupakan generasi terbaru interferon yang telah terbukti efektif dan disetujui untuk terapi Hepatitis C di Eropa dan Amerika pada akhir tahun 2002 lalu. Peg-interferon alfa-2a (40KD) Roche memberikan angka kesembuhan tertinggi pada pasien Hepatitis C. Obat ini disuntikkan seminggu sekali selama 24-48 minggu (tergantung genotipe virus) dan dikombinasikan dengan tablet Ribavirin 1000 mg.
Hasil dua studi internasional di 81 institusi di dunia menunjukkan keunggulan kombinasi obat Peg-interferon alfa-2a (40KD) dengan Ribavirin. Pada studi pertama, yang telah dipublikasikan di New England Journal of Medicine(Oktober 2002) disimpulkan bahwa Peg-interferon alfa-2a (40KD) + Ribavirin lebih efektif dibandingkan interferon konvensional plus ribavirin. Parameter yang diujikan yaitu respon virologik menetap (Sustained Virological Response/SVR) yang mencapai 56% dibandingkan 44% pada kelompok interferon konvensional. SVR adalah tak terdeteksinya virus hepatitis C pada 6 bulan pasca terapi selesai.
Pada studi kedua, ditemukan bahwa respon terbaik dijumpai pada pemberian Peg-interferon alfa-2a (40KD) + Ribavirin dengan lama pengobatan 24 minggu dan dosis ribavirin 800 mg untuk pasien dengan genotipe non-1. Untuk pasien dengan genotipe 1, pengobatan yang memberi SVR tertinggi adalah dengan kombinasi Peg-interferon alfa-2a (40KD) dan Ribavirin dosis 1000/1200 mg (tergantung berat badan) selama 48 minggu Pada studi ini disimpulkan SVR sebesar 78% (genotipe non-1) dan 51% (genotipe 1). Dibuktikan pula kombinasi ini efektif untuk pasien dengan kondisi penyulit khusus seperti sirosis (pengerasan hati), pasien dengan muatan virus tinggi (> 2.000.000 kopi virus/ml).
Produk yang berhubungan:
Pegasys
|