|
Transplantasi Ginjal (TG)
TG merupakan satu alternatif yang terintegrasi
dengan jenis TP lainnya.
Transplantasi adalah pemindahan suatu bagian
dari tubuh organisme ke tempat lain di dalam organisme itu
sendiri atau ke dalam organisme lain.
TG yang pertama dilaksanakan pada anjing
oleh Ullmann (1902), berupa autograft, yaitu ginjal dipindahkan
didalam tubuh anjing yang sama.
TG pada manusia yang mengalami GGT (Murray
dan kawan-kawan di tahun 1954 di Boston).
Ginjal dipindahkan dari orang sehat kepada kembar identiknya
dan arteri serta vena renalis dianastomosis dengan arteria
dan vena iliaka. Pada TG tersebut ginjal baru diletakkan di
Fosa iliaka, ekstra peritoneal dan ureter diimplantasi dikandung
kemih. Sejak itu cara ini menjadi cara yang baku.
Masalah pada transplantasi adalah
penolakan atau rejeksi.
Setiap ginjal yang dipindahkan ke dalam tubuh organisme lain
walaupun spesiesnya sama, selalu dikenal oleh organisme yang
menerima sebagai suatu protein atau benda asing , sehingga
tubuh tersebut dengan segera mulai menghancurkan graft tersebut.
Graft yang dideteksi oleh suatu tubuh resipien akan merangsang
sistem retikuloendotelial sehingga aktivasi yang menghasilkan
populasi limfosit yang tersensitasi.
Populasi limfosit ini kemudian akan mampu memproduksi antigen
yang merusak graft dan juga mampu mrusak graft secara langsung.
Dasar-dasar imunologis rejeksi pada
transplantasi.
Rejeksi adalah sebagai usaha dari tubuh manusia
untuk menolak dan meniadakan benda asing, dalam hal ini organ
atau jaringan dari tubuh organisme lain, bila masuk ke dalam
tubuh. Penolakan ini berdasarkan proses imunologis yang sangat
kompleks dan baru sebahagian yang dipahami.
Bila suatu benda asing yang masuk pada tubuh
host (pejamu), maka timbul respon imun, terutama bila zat
atau benda tersebut mengandung protein. Respon imun ini mengikut
sertakan mekanisme pertahanan di sistem retikulo-endotelial
denag timbulnya limfosit peka yang membentuk antibodi dan
yang dapat menimbulkan destruksi langsung organ atau jaringan
yang masuk tersebut. Respon ini sudah dikenal al: bakteri
atau virus yang masuk kedalam tubuh.
Protein asing disebut antigen . Kadang -kadang karbohidrat
dan bahan kimia lain juga bersifat antigen. Tahap respons
adalah fase sensitasi , dimana terjadi ingestifragmen antigen
oleh makrofag dan antigen tersebut berkenalan dengan limfosit.
Limfosit B dan sel plasma mampu menghasilkan
suatu globulin yang kemudian masuk ke aliran darah sebagai
suatu respons terhadap adanya antigen. Globulin ini disebut
antibodi yang terdiri dari asam amino yang berbentuk empat
rantai polipeptid ( 2 rantai panjang /berat & 2 rantai
pendek/ringan . Jenis antibodi ditentukan oleh rantai berat
yaitu rantai alfa-antibodi (IgA) , rantai gamma-antibodi (IgG)
dan rantai U-IgM.
Pada TG terbentuk antibodi khusus yang sedemikian rupa hanya
mengikat antigen yang dideteksi dari jaringan transplantasi.
Antibodi yang cytotoxic dapat menimbulkan kerusakan jaringan
transplantasi. Antibodi sitotoksik adalah IgG atau IgM. Sitotoksisitas
berarti membunuh sel dan ini terjadi pada transplantasi oleh
karena antibodi bersama-sama dengan komplimen diproduksi oleh
limfosit yang peka.
Berbagai leukosit berperan dalam rejeksi. Leukosit polimorfonuklear
sebenarnya berfungsi utama pada infeksi bakterial dan tidak
berfungsi langsung pada rejeksi, tetapi leukosit ini akan
berkumpul di jaringan yang telah rusak disebabkan oleh limfosit.
Ada kemungkinan limfosit tersebut memproduksi Chemotatic factors
yang menarik leukosit polimorfonuklear pada proses rejeksi.
Limfosit merupakan leukosit yang paling penting pada proses
rejeksi. Bila ada antigen , pertama adalah timbulnya subpopulasi
limfosit yang menghasilkan antibodi untuk mengikat antigen
atau bereaksi langsung, cell mediated terhadap jaringan. Walaupun
antigen tersebut telah hilang sejumlah kecil limfosit masih
mempunyai immunologic memory dan mampu bereaksi secara cepat
kalau antigen yang sama muncul lagi.
Ada 2 macam limfosit (subpopulasi limfosit) : T cell dan B
cell, keduanya berespon terhadap jaringan transplantasi. Antibodi
yang dibentuk oleh resipien secara cepat terikat pada jaringan
transplantasi dan tergantung dari sifat antibodi tersebut,
dan dapat menyebabkan rejeksi.
Kontak antara limfosit T dan antigen menimbulkan sensitisasi
sekelompok sel yang dapat menimbulkan proliferasi limfoblast
yaitu sel T yang membesar dan diprogram khusus untuk melawan
jaringan transplantasi. Mekanisme ini menimbulkan kerusakan
jaringan transplantasi yang cell mediated. Limfosit tersebut
akan menyerang dan masuk ke jaringan transplantasi dan mengeluarkan
berbagai zat yang disebut lymphokines.
Diantara zat-zat ini terdapat juga faktor sitotoksik yang
mampu menhancurkan sel donor dan juga menarik sel-sel polimorfonuklear
kearah jaringan, sehingga terjadi inflamasi.
Sel makrofag berperan pad fase sensitasi sel dan berbagai
efektor pada destruksiantigen. Makrofag dapat mendeteksi dan
mengambil partikel antigen lalu memperkenalkannya kepada limfosit
sehingga terjadi inisiasi respons imun. Disamping itu dapat
tertarik ke arah jaringan transplantasi dan meningkatkan destruksi
jaringan donor tersebut.
Sistem HLA dan Transplantasi
Determinan antigenik penting dideteksi untuk
mengetahui kesesuaian jaringan antara resipien dan donor.
Salah satu determinan yang paling penting adalah human leucocyte
antigen system (HLA) yang terdapat diseluruh permukaan sel
berinti. Pada manusia ternyata terdapat di kromosom nomor
6 dan daerah ini disebut major histocompatibility complex
(MHC).
MHC terdapat lengan pendek kromosom nomor 6 terbagi atas beberapa
bagian al:
Lokus HLA-A, lokus HLA-B dan lokus HLA-C.
Dan tahun 1973 dengan teknik yang lebih baru
ditemukan daerah HLA-D (esei mikrositotoksisitas). Kemudian
daerah ini ditambah dengan lokus DR (artinya D related), yang
ternayta bermakna besar dalam transplantasi . Dan kemudian
di identifikasi adalagi lokus tambahan yang disebut huruf
W yang berarti workshop.
Diharapkan dengan mencocokkan lokus yang ada pada donor dan
resipien, diperoleh penentu apakah kelangsungan hidup jaringan
cangkok akan baik atau tidak. Dari pengalaman ternyata tidak
sesederhana itu.
Dua orang saudara kandung yang mempunyai
pola kromosom yang sama disebut identik
Sedangkan yang mempunyai satu pola kromosom yang sama disebut
tipe satu haplo (one haplo type). Dengan sendirinya dapat
dimengerti bahwa ada 25 % kemungkinan , ada yang tidak sama
pola kromosomnya sama sekali. Sudah pasti bahwa MHC dan HLA
mempunyai peran dalam kelangsungan hidup ginjal transplantasi.
Peran HLA pada transplantasi donor jenazah tidak semudah itu.
Tapi yang penting adalah HLA jenazah sesuai.
Jenis-jenis Rejeksi pada transplantasi
ginjal
| Jenis |
Saat terjadi |
| Hiperakut |
Waktu anastomosis arteri dibuka |
| Akut : terakselerasi biasa |
Minggu pertama |
| |
Minggu kedua sampai 6 bulan. |
| |
Paling sering pada 6 minggu pertama |
| Kronik |
Disadari setelah berbulan/ bertahun |
Rejeksi hiperakut
Terjadi segera setelah anastomosisarteri
dibuka. Ginjal yang biasanya menjadi merah dan keras nampak
biru, lembek dan tak menghasilkan urin. Pada pemeriksaan histologik
akan nampak endapan trombosis yang berat, kerusakan endotel
di pembuluh arteri besar dan kecil, infiltrasi leukosit polimorfonuklear,tapi
jarang limfosit. Endapan limfosit akan nampak pada ginjal
baru dan reaksi ini merupakan reaksi antibodi humoral terhadap
aloantigen donor. Rejeksi ini dapat dicegah apabila dilakukan
crossmatch yang baik . rejeksi hiperakut ini walaupun sangat
jarang (0,1 %).
Rejeksi akut
Merupakan suatu masalah pada transplantasi
ginjal dan merupakan penyebab kegagalan pada 75 % transplantasi
donor hidup bahkan 95 % transplantasi donor jenazah. Bila
rejeksi terjadi ,gambaran klinis lihat ( tabel 3 ). Dan yang
paling penting adalah mengetahui terjadinya rejeksi sedini
mungkin.
Tabel 3. Gambaran klinis rejeksi
akut.
1. Panas
2. Malaise
3. Mailgia
4. Ginjal baru membesar dan nyeri
5. Berat badan naik
6. Tekanan darah naik
7. Produksi urin turun
8. Faal ginjal memburuk
9. Tanda biokimiawi
10. Tanda radiologi
11. Histopatologi (melalui biopsi
Suatu rejeksi akut bila dibiarkan berlanjut akan menyebabkan
keadaan umum penderita mejadi buruk, gelisah, timbul gejala
abdomen akut, renjatan karena perdarahan dari permukaan ginjal
baru, dan tentunya dapat menyebabkan kematian.
Pada pemeriksaan laboratorium : terjadi peningkatan kreatinin
serum, ekskresi fraksional Na berkurang, osmolalitas urin
meningkat, beta 2 mikroglobulinserum serum meningkat, pengurangan
beta 2 mikroglobulin urin dan limfosituria.
Pemeriksaan radiologi bersifat penunjang
, bukan penentu. Dapat ditemukan kelainan pada renal scan
dengan isotop ( tabel 4.)
Tabel 4. Kelainan akan isotop ginjal
pada rejeksi aku
1. Ambilan 4 menit berkurang
2. Retensi isotop di korteks pada 24 menit
3. Kurve ambilan kurang curam
4. Kurve ekskresi datar.
Gambaran seperti ini tampak pula nekrosis tubular akut, toksisitas
cyclosporin dan beberapa penyakit parenkim ginjal. [pemeriksaan
Magnetic Resonance Imaging (MRI) bersifat spesifik dan sensitif].
Pada jaringan biopsi dapat ditemukan gambaran khas (gambaran
histopatologi adalah infiltrasi sel berinti satu dengan arteritis
dan pengerumunan sel berinti satu di daerah perivaskular.
Terdapat infiltrasi berat sel berinti satu di interstisium.
Sel berinti satu ini terdiri dari sel T, makrofag, sel B,
limfosit besar bergranulasi (large granulocyte lymphocyte
dan kadang-kadang sel polimorfonuklear , eosinofil serta basofil.
Sel endotel mengalami kerusakan karena dia mengandung antigen
MHC (major Histocompatibility complex) kelas I dan II yang
akan dijelaskan dibagian lain tulisan.
Selain melalui biopsi biasa, jaringan atau sel dapat pula
diperoleh melalui aspirasi jarum.
Kematian biasanya terjadi oleh karena usaha
yang berlebihan untuk mempertahankan ginjal baru.
Kewaspadaan dan kemampuan menegakkan diagnostik pada masa
dini dan mencegah usaha berlebihan mempertahankan ginjal baru,
dan melakukan nefroktomi pada saat yang tepat, kematian resipien
karena rejeksi akut dapat dicegah.
Rejeksi akut umumnya timbul pada 6 minggu pertama. Makin dini
timbulnya rejeksi akut, makin berat kelainan yang dihadapi,
sehingga sering disebut rejeksi terakselerasi (accelerated
acute rejection). Proses inflamasi yang terjadi sebenarnya
sudah mulai sebelum gejal klinis nyata. Rejeksi pertama biasanya
masih bisa diatasi , misalnya dengan pemberian metil prednisolon
500 mg - I g setiap hari selama 3 -5 hari. Kalau rejeksi beulang
lagi, biasanya lebih sukar diatasi dan cenderung resisten
terhadap metil prednisolon. Dalam hal ini pilihan lain adalah
memberi ALG (anti lymphocyte globulin), ATG (anti timosit
globulin) atau antibodi monoclonal seperti OKT 3. Berbagai
skema untuk mengatasi rejeksi akut.
Persiapan pra- transplantasi untuk resipien sebagai
berikut:
• Menilai kemampuan mengalami operasi
berat
• Menilai kemampuan menerima obat imunosupresi untuk
waktu yang lama
• Menilai status vaskular tempat anatomosis
• Menilai traktus urinarius bawah
• Menghilangkan semua sumber infeksi
• Menilai dan mempersiapkan unsur psikis.
Persiapan pra- transplantasi untuk
calon donor :
• Menilai kerelaan (a.l. tak ada unsur
paksaan dan jual beli)
• Menilai kemampuan untuk nefrektomi
• Menilai jangka panjang ginjal tunggal
• Menilai kemungkinan anastomosis
• Menilai kesesuaian golongan darah ABO, HLA dan crossmatch.
Komplikasi TG pada resipien dapat
dibagi dua yaitu :
• Komplikasi medis
• Komplikasi bedah
Komplikasi medis umumnya terdiri
dari :
• Komplikasi yang berhubungan dengan
tindakan bedah seperti nekrosis tubular akut.
• Komplikasi yang berhubungan dengan pemberian obat
imunosupresi, misalnya : infeksi dan ulkus peptikum
• Komplikasi imunologik seperti : berbagai macam rejeksi.
Komplikasi bedah umumnya terjadi pada awal
program transplantasi, kemudian menjadi sedikit dan hanya
terjadi pada keadaan yang sangat khusus.
Komplikasi bedah a.l:
• Perdarahan
• Kebocoran anatomosis ureter-kandung kemih
• Bendungan getah bening
TG pertama kali dilakukan di Indonesia tahun
1977 di Jakarta. Dan telah dilakukan di 5 kota besar. Hanya
biayanya mahal, dan semuanya dengan donor hidup. Memanfaatkan
donor jenazah belum memungkinkan karena undang-undang mengenai
hal tsb belum ada. Batasan atau definisi mati yang memungkinkan
untuk pemanfaatan donor jenazah hanyalah mati batang otak.
Produk yang berhubungan :
CellCept
Recormon
|